Home > News-Berita > Siap menadah bisnis seragam sekolah?

Siap menadah bisnis seragam sekolah?

JAKARTA. Jelang tahun ajaran baru, pebisnis seragam sekolah boleh tersenyum sebab permintaan akan perlengkapan sekolah naik hingga 100%. Salah satu pelakunya adalah Nurwati dengan brand Toko Mutiara Seragam Online Desember 2013, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Namun tak selamanya Nurwati tersenyum, sebab persiapan yang dilakukan menyambut tahun ajaran baru terkadang terkendala penjahit yang hendak mudik.

Mengapi kendala ini Nurwati hanya bisa pasrah menunggu para penjahit kembali bekerja pasca mudik. “Kendalanya saat mau lebaran, penjahit mau mudik, padahal permintaan sedang banyak. Mau gimana lagi, itu hak mereka, saya hanya bisa pasrah, menunggu mereka balik bekerja,” ungkap Nurwati.

Agar dapat memenuhi permintaan yang datang , Nurwati sendiri mengaku bekerjasama dengan berbagai konveksi yang memproduksi baju, celana, rok, topi, dasi, dan ikat pinggang. Uniknya lagi, Nurwita menekuman para pemilik konveksi ini secara online juga.

“Sistem kerjasamanya saya order dan bayar DP untuk beli bahan atau saya kirim bahan lalu dibuatkan, barang selesai baru saya lunasi,” jelas Nurwati. Dari kerja sama ini, Nurwati mampu menjajaki 500 potong seragam selama dua minggu.

Mampu meraup omzet puluhan juta setiap bulan, Nurwati hanya melakukan marketing seragam sekolahnya melalui portal www.nurwati.com dan sosial media. Ia akan selalu memperbarui daftar harga, jika terdapat perubahan harga.

Bagi pelanggannya yang melakukan transaksi jual beli Nurwati sendiri memberikan beberapa skema pembayaran. Bila seragam mencukupi, maka pembeli harus membayar lunas. Namun jika barang kosong, Ia akan meminta tanda jadi transaksi 50% dari total belanja dan mengirimkan barang saat sudah tersedia.

Bagi pelanggan yang merasa was was dan tidak percaya akan jual beli online, ia akan mengadakan transaksi tatap muda dan pembeli membayarkan DP 50% dari total transaksi.

Pelaku usaha lainnya adalah Tio Adibayuadjie di Tangerang. Berbeda dengan pelaku usaha lainnya, Tio mengaku kenaikan penjualan seragam tidaklah signifikan. Pasalnya, setiap sekolah sudah menggandeng produsen seragam masing-masing. “Jadi tidak sembarang memesan seragam ke produsen yang tidak kontrak,” ujarnya.

Namun, untuk mengembangkan usaha penjualan seragam sekolah, Tio terus memasarkan usaha lewat sosial media. Sehingga diluar pihak sekolah, Tio masih mendapat pesanan. Bicara soal pesanan, Tio menetapkan aturan dimana konsumen wajib melakukan pemesanan dua minggu sebelumnya. Hal ini agar memaksimalkan pesanan pembeli.

Kedepannya, Tio berencana untuk menggandeng sekolah dan kampus yang berada di Jabodetabek. “Sudah siapkan buku dan tawaran kerjasama, rencananya tahun ini akan jalan,” sebut Tio.

 


Source link

About admin

Check Also

Cara Bea Cukai tertibkan impor ilegal

JAKARTA. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemkeu) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penertiban …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *