Home > News-Berita > Poin krusial di KTT G-20 Hamburg, apa saja?

Poin krusial di KTT G-20 Hamburg, apa saja?

HAMBURG. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara yang tergabung di Grup Dua Puluh (G-20) berlangsung di Hamburg, Jerman mulai hari ini (7/7) hingga Sabtu (8/7). Momen ini menyita perhatian global lantaran para pemimpin dunia bergabung membicarakan sejumlah masalah penting. 

Berbagai isu utama yang dibahas meliputi masalah perdagangan dan ekonomi, perubahan iklim serta keamanan internasional. Perhatian masyarakat dunia tertuju pada pertemuan tatap muka Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang pertama kali dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT tersebut. 

Sementara Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel telah bertemu lebih dulu dalam perbincangan resmi sebelum KTT dimulai. Kali ini mereka berjabat tangan, tidak seperti pada pertemuan di Washington beberapa waktu silam ketika kedua tokoh ini tidak berjabatan tangan.    

Trump dalam masa kepemimpinannya tampak kerap mengeluarkan keputusan yang tidak diprediksi dengan alasan proteksionisme. Ini menjadi hal menarik yang ditunggu. Seperti, keputusan mengejutkan Trump untuk keluar dari KTT Iklim Prancis beberapa waktu lalu. Hal ini membuat banyak pihak protes, termasuk perusahaan-perusahaan AS yang keberatan dengan keputusan presidennya sendiri. 

Keputusan-keputusan lain seperti kebijakan perdagangan bebas dan masalah imigrasi juga mempertajam hubungannya dengan sejumlah negara termasuk Jerman. Seperti dikutip Bloomberg, Angela Merkel bertekad untuk tidak mengulangi pertemuan G7 pada Mei lalu di Italia. Ketika itu enam negara setuju dengan kebijakan yang disusun, kecuali satu negara: AS!

Ini sejumlah hal krusial yang akan menjadi perhatian global: 

Perdagangan

Negara-negara seperti Jerman, Inggris, Brazil, Argentina dan Korea Selatan mendukung kebijakan pasar terbuka. Sementara Trump menolaknya. Dalam berbagai kesempatan Trump sering menunjukkan bahwa AS selama ini telah dirugikan dengan sistem dagang yang sekarang berjalan. Untuk itu dia berusaha merombak tatanan perdagangan global yang akan mengorbankan negara-negara lain. 

Sementara Jerman sebagai pengekspor terbesar di negara Eropa, Merkel berada di bawah tekanan untuk mempertahankan kebijakan pasar terbuka dan menghadapi kritik terhadap surplus perdagangan Jerman. Merkel berusaha berbicara dengan negara sekutu perdagangan bebas seperti China, India dan Meksiko untuk bisa terus menjalankan sistem ini dan menyelesaikan kesepakatan perdagangan The Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP) antara Uni Eropa (UE) dan AS. 

Sementara Inggris memiliki kepentingan sendiri untuk menyelamatkan negara ini jika Inggris benar-benar keluar dari UE atawa British exit (Brexit). Untuk itu, Theresa May banyak membuka kesempatan dan pembicaraan bahwa Brexit sangat terbuka untuk kerja sama bisnis. 


Source link

About admin

Check Also

Ramadan, transaksi di Lazada naik 2,5 kali lipat

JAKARTA. Minat masyarakat membeli barang secara online di bulan ramadan kemarin rupanya sangat tinggi. Tak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *