Home > News-Berita > Kinerja Goldman Sachs terburuk tahun ini

Kinerja Goldman Sachs terburuk tahun ini

NEW YORK. Nasib kurang beruntung dialami Goldman Sachs Asset Management (GSAM) tahun ini. Entitas pengelola dana investasi atawa fund manager ini disebut-sebut bakal menjadi perusahaan investasi mencetak kinerja terburuk di tahun 2017.

Hal tersebut terjadi karena penarikan dana besar-besaran oleh investor GSAM. Berdasarkan data Morningstar yang dipublikasikan Financial Times, diperkirakan investasi senilai US$ 26,7 miliar dicairkan (redemption) oleh investor reksadana racikan GSAM di sepanjang tahun ini.

Hingga kini, jumlah redemption tersebut menjadi yang terbesar diantara semua perusahaan pengelola dana. Bahkan dari hitungan Morningstar, redemption di GSAM mencapai setengah dari total nilai aset fund menager global yang ditarik investor.

Arus dana yang keluar dari GSAM tersebut, juga bernilai dua kali lipat dari total dana yang cabut dari fund manager lain bernama Federated Investor, yang kini menempati posisi kedua dengan kinerja terburuk setelah GSAM.

Hal tersebut tentu menyulitkan GSAM yang sedang mencoba mendiversifikasikan bisnis. GSAM sedang fokus mendorong kinerja unit bisnis pengelolaan aset yang saat ini mengelola dana kekayaan bernilai US$ 1,3 triliun.

Goldman Sachs memang sedang berupaya mengurangi ketergantungan pendapatan dari bisnis investment banking dan perdagangan. Tahun 2016, pendapatan GSAM turun 7% dari 2015. Imbasnya, keuntungan perusahaan juga ikut turun sebesar 17%.

Kinerja GSAM yang buruk di tahun 2016, rupanya bakal kembali terulang di tahun ini. Hingga kuartal I 2017, pendapatan GSAM sudah tergerus 7%.

Tekanan merata di industri

Besarnya pencairan dana oleh investor, menurut manajemen GSAM, terjadi atas investasi di pasar uang dan juga keranjang investasi jangka pendek yang menyediakan alternatif likuid bagi investor. “Padahal arus dana di pasar uang adalah ukuran bisnis kami,” kata Jurubicara GSAM seperti dikutip Financial Times.

Chief Financial Officer (CFO) GSAM, Martin Chavez menyatakan, sampai April 2017, perusahaannya berada dalam tekanan yang besar. “Kami tidak kebal terhadap apa yang terjadi pada umumnya di industri ini,” imbuh Chavez.

Sebagai perbandingan, tren pencairan besar-besaran dana investor tidak hanya dialami GSAM saja. Pengelola dana besar lain pun juga merasakan hal serupa, serta dalam jumlah mencapai miliaran dollar AS. Di antaranya adalah Fidelity Investment, Morgan Stanley dan Franklin Templeton. Namun tekanan penarikan dana yang dihadapi dua perusahaan tersebut tidak sebesar penarikan dana di GSAM.

GSAM sendiri telah menutup operasionalnya di London dan memindahkannya ke AS. Selain karena faktor Brexit, tekanan ekonomi di Eropa juga turut mempengaruhi bisnis GSAM. Kini, nama besar GSAM di Eropa tidak lagi selegendaris dulu.


Source link

About admin

Check Also

Ramadan, transaksi di Lazada naik 2,5 kali lipat

JAKARTA. Minat masyarakat membeli barang secara online di bulan ramadan kemarin rupanya sangat tinggi. Tak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *