Home > News-Berita > Bunga rendah, refinancing semakin padat

Bunga rendah, refinancing semakin padat

JAKARTA. Kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi BBB-/A-3 dengan outlook stabil oleh lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) mulai terasa. Beberapa emiten merencanakan penerbitan surat utang global.

“Faktor sentimen S&P yang paling mempengaruhi,” ujar David Sutyanto, analis First Asia Capital kepada KONTAN, Senin (10/7).

Dengan kenaikan rating, risiko berinvestasi di Indonesia berkurang. Imbasnya, tingkat suku bunga turun. Tren turunnya suku bunga ini dimanfaatkan para emiten untuk memperbaiki kesehatan keuangannya mumpung cost of fund sedang murah.

Pada saat yang bersamaan, menurunnya risiko di Indonesia berarti kondisi makro yang lebih stabil di mata investor asing. Ini alasan minat beli obligasi dari Indonesia terbilang tinggi, hampir semuanya terserap terutama bagi penerbit obligasi yang memiliki nama besar.

Kondisi makro yang kondusif juga bukan sekadar angan-angan. Hal ini salah satunya terlihat dari tingkat inflasi. Per Juni, tingkat inflasi memang 0,66%, diatas prediksi pemerintah sebesar 0,4%. Tapi, secara year to date (ytd) tingkat inflasi sebesar 2,38%. Level ini dinilai masih aman. “Jadi, fundamental makro ekonomi dalam negeri saat ini menurut kami masih cukup stabil,” ujar Muhammad Nafan Aji, analis Binaartha Sekuritas.

Namun, David memberikan catatan, investor asing tetap lebih menyukai denominasi dollar AS karena punya posisi yang lebih kuat ketimbang rupiah. Kebanyakan penerbitan global bond juga lebih banyak dialokasikan untuk refinancing

Pertama, ini karena emiten yang memang sudah terlanjur terikat perjanjian terkait kurs yang wajib digunakan saat mencari pinjaman. Kedua, faktor lain yang tak kalah signifikan pengaruhnya adalah, soal risiko.

Jika emiten menerbitkan obligasi global untuk ekspansi, selain risiko kurs, emiten juga bakal menanggung risiko jika nanti pabriknya tidak bisa langsung beroperasi sehingga menghambat cashflow yang seharusnya bisa digunakan untuk mencicil utang. “Jadi, risikonya malah dobel nanti,” kata David.

Namun, bukan berarti global bond untuk modal ekspansi menjadi lebih sepi. Semester kedua, akan lebih banyak infrastruktur yang bakal dimulai pengerjaannya.

Sumber pendanaan pun meningkat. Oleh sebab itu, David menilai pada semester kedua ini penerbitan global bond masih tetap ramai terutama dari sektor infrastruktur dan penunjangnya.

Denominasi yang digunakan juga bisa tetap menggunakan kurs rupiah. Jika obligasi global itu datang dari perusahaan dengan nama besar, yang mau beli pasti ada. PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menjadi salah satu emiten yang mewacanakan penerbitan obligasi global di London. Sejumlah nama seperti PT ABM Investama Tbk (ABMM) juga sudah lebih dulu mewacanakan penerbitan obligasi global.


Source link

About admin

Check Also

Cara Bea Cukai tertibkan impor ilegal

JAKARTA. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemkeu) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penertiban …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *